Friday, November 20, 2009

Minah dan Tiga Buah Kakao

Salut pada KOMPAS karena telah menempatkan berita ini di halaman depan sebagai berita utama!

Koruptor kelas kakap dibiarkan melenggang santai, bisa mengulur-ulur waktu, pura-pura sakit, dan diberi kesempatan dibela pengacara-pengacara mulut besar yang tak kalah haus duitnya, sedangkan Minah yang mengambil 3 buah kakao dari sebuah perkebunan besar untuk dibuat bibit tidak diberi ampun dan segera saja menjalani proses hukum. Uuuugghhhhh... Kambing!


JUMAT, 20 NOVEMBER 2009 | 08:09 WIB
Madina Nusrat

Minah (55) hanya dapat meremas kedua belah tangannya untuk menepis kegalauan agar tetap tegar saat menyampaikan pembelaan atau pleidoi di hadapan majelis hakim di Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/11).

Tanpa didampingi pengacara, ia menceritakan bahwa alasannya memetik tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4, pertengahan Agustus lalu, adalah untuk dijadikan bibit.Nenek tujuh cucu yang buta huruf ini sesekali melemparkan pandangan kepada beberapa orang yang dikenal guna memperoleh kekuatan. Ia berusaha memastikan bahwa pembelaannya dapat meyakinkan majelis hakim.

Dengan menggunakan bahasa Jawa ngapak (dialek Banyumasan) bercampur bahasa Indonesia, Minah menuturkan, tiga buah kakao itu untuk menambah bibit tanaman kakao di kebunnya di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. ”Kalau dipenjara, inyong (saya) enggak mau Pak Hakim. Namung (cuma) tiga buah kakao,” ujar Minah kepada majelis hakim.

Thursday, November 19, 2009

Cadas!

Rock Indonesia belum mati! Puji Tuhan!

Sudah tidak kuat lagi saya pada musik yang mendayu-dayu nan cengeng, tapi bolak-balik diputar di radio dan televisi dengan segerombolan orang yang ikut menari-nari aneh di belakangnya. Ya, sesekali tangan saya khilaf dan memencet channel televisi Indonesia di pagi dan sore hari. Saya selalu menyesal jika itu terjadi. Selalu!

Band ini adalah penyelamat bagi kuping (juga mata) saya. Kita butuh musik yang jujur dan tidak menghina intelijensia kita sebagai konsumen. Ada 13 track dalam album mereka dan ini adalah salah satunya. Pasang dengan volume paling kencang, Bung!




Sutradara: Dibyokusumo

Lagu yang ini tidak ada di dalam album pertama mereka, tapi sebaiknya muncul di album kedua! Hotness!

"Lenny" - GRIBS (Gondrong Kribo Bersaudara)

I Love The Blue of Indonesia

Menurut hemat saya, iklan ini adalah iklan paling legendaris! Ambil mesin waktu, kembali ke awal '90-an dan mari sama-sama bernyanyi!

Wednesday, November 18, 2009

Jika Saya Lahir di Tahun 1879

Jika saya lahir di tahun 1879, kira-kira akan jadi perempuan macam apa ya saya?

Istri seorang wedana?


Gundik Pejabat Kolonial?

Kalangan Terdidik?

Abdi Dalem?

Atau Pejuang untuk Kemerdekaan Bangsa?

Sekali lagi, atas nama imajinasi!


Sunday, November 15, 2009

Uji Imajinasi

Atas nama imajinasi, benda-benda ini mengingatkanku pada....

Bona Si Gajah Kecil Berbelalai Panjang

Mulut Ular Berbisa?

Ular di Negeri Para Raksasa

Jakarta

Runtuhnya Kerajaan Romawi

Roket untuk Membawaku ke Bulan


Saturday, November 14, 2009

Ikhlas

Kata yang mudah dilafalkan.
Tak semudah itu dilaksanakan.

Semesta, mohon kekuatan.

"Life is a process. We are a process. The universe is a process."
- Anne Wilson Schaef

Wednesday, November 11, 2009

Seorang laki-laki hanya sebaik janji-janji yang ditepatinya.


Tadi malam ada kematian.

Kematian jiwa seorang manusia yang tubuh fananya kini masih gentayangan.

Tiada lagi sisa masa lalu. Hilang sudah. Mati sudah.

Habis sudah.

Habis sudah.

Selamat tinggal.


Sunday, November 8, 2009

Jakarta di Bulan November: Djakarta Artmosphere dan The Erased Time

Di awal November 2009 ini dua event menarik dilangsungkan di Jakarta Raya.

Satu event telah berlangsung kemarin dengan judul "Djakarta Artmosphere" di Annex Building, Wisma Nusantara, Jakarta. Event ini menampilkan musisi-musisi muda dan senior Indonesia, seperti Anda with the Joints, Angsa dan Serigala, GRIBS, Endah & Rhesa, juga SORE yang berkolaborasi dengan Ebiet G. Ade, Efek Rumah Kaca dengan Doel Soembang, White Shoes and the Couples Company dengan Oele Pattiselanno dan Fariz RM, juga Tika and the Dissidents dengan Vina Panduwinata.

Kolaborasi demi kolaborasi yang ditampilkan memiliki mood yang berbeda-beda. Terbaik bagi saya adalah kolaborasi Tika and the Dissidents dengan Vina Panduwinata. Saya cinta keduanya, dan ketika mereka bernyanyi bersama saya tidak henti-hentinya merinding. Bisa melihat keduanya di berada di panggung yang sama dan saling menyanyikan lagu milik lainnya adalah sebuah pemandangan yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Saya tidak mau melupakannya!

Para penampil yang lain pun tak kalah istimewa. Kolaborasi Doel Soembang dan Efek Rumah Kaca geram mengkritik, sekaligus menggelitik lewat musikalisasi puisi Remy Silado, sedangkan White Shoes and The Couples Company dengan Oele Pattiselanno dan Fariz RM berhasil tampil dengan rapih dan sangat menghibur, menyajikan perpindahan era dengan mulus. Meski samar, badan otomatis ikut bergoyang. Salut!

Event kedua adalah Pameran Tunggal FX Harsono dengan judul The Erased Time di Galeri Nasional, Jakarta Pusat yang akan berlangsung hingga tanggal 15 November 2009.

Perupa senior itu menghadirkan karya yang sangat beragam, namun dengan benang merah yang satu, yakni mengenai identitasnya sebagai seorang keturunan Cina yang besar di Blitar, Jawa Timur. Nama Cina FX Harsono menjadi unsur penting dalam pengembangan karya-karyanya kali ini.

Ayah Harsono yang seorang fotografer memiliki koleksi foto-foto dokumentasi penggalian kuburan massal di daerah Blitar Selatan yang terjadi karena upaya penuntasan Partai Komunis di Indonesia. Foto-foto ini ditampilkan sebagai bagian dari instalasi karya sebagai bukti sejarah Indonesia yang kelam dan selama ini turut dikubur bersama tubuh-tubuh mereka yang dianggap terlibat komunisme. Anda harus melihat sendiri foto-foto ini yang sangat mencengangkan itu.

Harsono juga menampilkan dua karya video yang masing-masing bercerita tentang masyarakat keturunan Cina yang bersekolah dengan sistem pendidikan Belanda dan mengenai cerita pembantaian berlatar belakang pembersihan antek komunisme di Indonesia pada masa lalu. Para saksi hidup bercerita tentang detail-detail ngeri masa itu.

Masih ada waktu untuk datang ke Galeri Nasional dan menjajal sendiri karya-karya FX Harsono. Bersiaplah tercengang dan bergidik, sekaligus menjadi lebih teredukasi. Bravo Pak Har!


Kabur!

Kata orang sebuah perjalanan dapat terasa sangat singkat jika kita menikmatinya. Tak heran, kabur sejenak selama 4 hari 3 malam kemarin terasa bagai hanya sehari semalam!

Liburan kemarin sesungguhnya agak dipaksakan. Di tengah teror deadline pekerjaan dan persiapan pernikahan, kabur sejenak itu jadi sesuatu yang HARUS terjadi, meski tidak 100% mulus tanpa distraksi.

Makanan setempat yang lezat, suasana kota yang santai, pantai yang luar biasa cantik dan teman-teman lama serta teman-teman baru yang membuat rahangku pegal karena tidak berhenti tertawa, adalah perpaduan paling sempurna untuk sebuah liburan yang menyenangkan. Tentu, ada satu-dua kesal yang mendadak muncul, tapi apalah artinya dibanding 100 momen tak terlupakan lainnya? Ah, rasanya ingin mengulang semua kembali!

















Terima kasih Jogjakarta dan teman-teman yang sudah meluangkan waktu, tenaga dan biaya. Kalian yang terbaik!


Tuesday, November 3, 2009

Selasa dan Purnama

Tadi malam mati lampu.
Gelap, gelap gulita seluruh rumah,
namun bulan bersinar amat terangnya di luar sana.
Terang sekali, hingga beringsut pergi segala kekhawatiran.
Semoga jadi pertanda baik akan perjalanan yang akan dijejak.
Terima kasih, Semesta.


Selamat hari Selasa, para pembaca yang budiman.
Semoga kita selalu berbahagia.


Peluk dan Kecup,
Andini